Selasa, 04 Februari 2014

Gadget + Berkendara = ?

Dear pembaca,

Saya membayangkan beragam respon pembaca saat melihat judul diatas.
Apakah anda termasuk orang langsung dapat mengkaitkan hal hal tersebut?
Ataukah malah anda orang yang sering melakukan dua hal di atas secara bersamaan?
Atau bahkan ada yang masih tidak mengerti?
*hm...kayaknya anda harus lebih mengamati sekitar...
kenapa?
karena hal itu sangat sering anda jumpai di jalanan
seperti yang saya jumpai pagi ini, dan sebelumnya

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan lanjut di kota yang amat terkenal dengan mahasiswanya dan budayanya...yang sayangnya sejak hari pertama saya disini, saya tidak menemukan aspek budaya di perilaku berkendara masyarakatnya
Bahkan jalanan yang relatif sempit (jika dibandingkan dengan kota asal saya) tidak mengurangi tingkat arogansi masyarakatnya dalam berkendara.
Hari pertama saya berkendara di kota ini, saya mengendarai motor dengan kecepatan 30km/jam ditepi kiri jalan. Karena rata-rata pengendara memacu motornya dengan amat kencang. :( (kalo kata temen saya, mungkin mereka pada kebelet semua)
Fenomena selanjutnya yang saya amati adalah seringnya mengambil jalur yang berlawanan arah. Kemudian berkendara di tepi kiri untuk kemudian belok kanan, atau menyalip dari sisi kanan untuk kemudian langsung berbelok kiri.
Pertanyaan saya, apakah mereka tidak bisa menunggu di jalurnya saja? kalau mau belok kanan ya ambil lah lajur kanan...begitu lah sebaliknya...apa tidak berpikir kalau memotong dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan secara tiba-tiba itu dapat membahayakan nyawa anda dan orang lain? (mungkin orang tersebut punya nyawa sembilan seperti kucing?)

Nah, tolong kombinasikan pengantar yang saya jabarkan di atas dengan judul yang saya buat.
Dari aspek berkendaranya saja sudah seperti itu...ditambah lagi SMS-an saat berkendara!!
Disini saya tidak akan membahas peraturan lalu lintas baik di negara kita tercinta ini maupun di luar negeri.
Tapi apakah orang-orang tersebut tidak memikirkan konsekuensi yang dapat ditimbulkannya?
Saya rasa sih jawabannya tidak pernah ya...atau mungkin dipikirkan, tapi lalu dilupakan. Kenapa? karena seperti penyakit, masyarakat kita lebih suka mengobati daripada mencegah. Atau, kalau belum terjadi kenapa harus dipikirkan.

Oke, kalau akibat yang ditimbulkan hanya berupa kemacetan, kejengkelan orang lain karena anda mengganggu kelancaran lalu lintas, Silahkan saja anda tidak peduli.
Tapi tolong renungkan jika hal ini menyebabkan kecelakaan? bahkan ada yang terluka dan meninggal?
Apakah anda baru akan memikirkan dan merenungkan setelah hal ini terjadi?
Tolong diingat bahwa anda bukan Tuhan, kesakitan yang dirasakan saat terluka tidak dapat anda hilangkan begitu saja (bahkan dengan obat penghilang rasa sakit pun, sakitnya akan terasa kembali begitu efek obatnya habis). Apalagi jika sampai ada nyawa yang melayang. bisakah anda menghidupkannya kembali?

Saya hanya bisa mengingatkan sampai disini, karena apapun keputusan anda, anda lah yang membuatnya sendiri.
Anda boleh setuju (itulah yang saya harapkan).
Atau anda boleh tidak setuju dan tidak peduli (saya doakan supaya tidak ada hal buruk yang terjadi saat anda berkendara sambil mainan gadget. Bukan demi anda, tapi demi orang lain yang kebetulan ada disekitar anda).
Sekali lagi, keputusan itu ada di tangan anda dan anda lah yang bertanggungjawab atas keputusan anda itu.


NB:
Pak polisi (kalau yang baca blog ini ada yang polisi)
Kebetulan saya menghapal nomor salahsatu mobil yang pengemudinya SMS-an saat berkendara. Karena saya sedang berkendara juga, saya tidak mungkin memotretnya sebagai barang bukti.
Ada saran, apa yang harus saya lakukan supaya orang tersebut jera?
Atau jika butuh nomernya, abiaisle (pengingat kalo-kalo saya lupa)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar