Senin, 02 Maret 2015

Pengalaman Mengurus BPJS ortu di kantor BPJS cabang Semarang

Kesimpulannya adalah menyebalkan...
lho kok tiba-tiba sudah kesimpulan? jadi begini pengalaman saya...
Oh ya, berhubung background saya juga di bidang kesehatan, jadi saya juga sedikit banyak mengetahui gambaran pelaksanaannya di lapangan...(wes yg ini nanti bisa dirangkum untuk tulisan yang lain)
Saya juga peserta ASKES yg sekarang notabene berubah jd BPJS kesehatan...(pengalaman ini juga mungkin akan saya tulis di entri yang lain ya...hihihi)
Pokoknya...apapun posisi saya, saya mencoba membuka hati sama BPJS ini...nggak ada satupun yg langsung sempurna ketika pertama kali di terapkan...jadi marilah bersama-sama membuat sistem kesehatan di Indonesia menjadi lebih baik...Amin...(semoga tulisan ini dibaca sama pemegang kebijakan yaaaa...)

Berawal dari beberapa minggu yang lalu...
Papa saya minta di uruskan keanggotaan BPJS karena dari kantornya sudah beberapa bulan belum di daftarkan juga...(katanya sih kantornya mendaftarkan secara bertahap). Dan setelah mencari info dari sana sini, papa saya bisa saja mengurus BPJS mendiri dulu supaya lebih cepat jadi (tidak perlu menunggu kantor). Nanti biar kantor yang mengurus mutasi pembayaran iurannya dari mandiri ke potong gaji. Berhubung pada sibuk semua nih, akhirnya pengen mencoba fitur terbaru dari pendaftaran BPJS yg katanya lebih mudah yaitu secara online. Tapi apa mau dikata, ternyata tidak bisa dilakukan karena saya dan adik saya yang nomer 2 sudah terlebih dahulu didaftarkan oleh kantor masing-masing. Pendaftaran BPJS papa, mama dan adik saya yang bungsu harus dilakukan di cabang terdekat.

Muncul lah permasalahan pertama.
Siapa yang mau mendaftarkan? kantor BPJS hanya buka senin s/d jumat sedangkan kami juga sibuk dari senin s/d jumat...jika ingin mengurus berarti harus ada yang rela cuti. (nggak ada ya ganti rugi bagi pegawai yang mau menguruskan BPJS untuk keluarganya? minimal nggak dianggap cuti...hehe...muluk2 bener mintanya ya... :p)

Saat itulah muncul tawaran dari salah satu kenalan, sebut saja pak Kumbang (berasa reportase investigasi) yang sering menguruskan pendaftaran BPJS sehingga kartu bisa jadi dalam satu hari tanpa mengantri. Karena situasi, tergodalah saya dan papa sehingga menghubungi orang tersebut...
Muncul lagi permasalahan selanjutnya...
1. masalah kelas BPJS yang akan diambil
    Kalau dilihat dari kriterianya, papa saya seharusnya membayar iuran BPJS untuk kelas 1. Tapi oleh pak Kumbang diberitahu untuk mengambil yang kelas 3 saja dengan dalih perbedaan kelas hanya muncul saat rawat inap saja dan banyak orang2 yang lebih kaya dari papa tetap mengambil iuran yang kelas 3.
Astaghfirullah...saya dan papa geleng-geleng kepala. Masih ada saja orang seperti itu...
Akhirnya papa ngeyel tetap mengambil kelas 1.
2. masalah pemilihan faskes
   Saya dan papa sudah mencari di internet daftar faskes tingkat pertama di kota Semarang dan dengan beberapa pertimbangan memilih klinik dekat rumah (klinik A). Bahkan kami aktif menelpon klinik tersebut untuk memastikan pelayanan yang disediakan.
Oleh pak Kumbang, dikatakan bahwa klinik tersebut tidak terdaftar...dan di sarankan untuk ke klinik yang lain (sebut saja klinik B)....kok bisa nggak terdaftar???
Akhirnya papa penasaran dan langsung menyambangi klinik tersebut untuk meminta kejelasan. Oleh petugas klinik dijelaskan bahwa peserta BPJS di klinik tersebut masih sedikit. Papa curiga ada yang tidak beres karena pak Kumbang tidak mau menguruskan klinik A dan menganjurkan klinik B terus. Akhirnya papa mengalah dan meminta ke klinik C kalau tidak bisa di klinik A. Klinik C adalah klinik yang dipilih dari kantor papa.
Lagi-lagi pak Kumbang tidak bisa menguruskan dengan alasan di klinik tersebut sudah penuh. Akhirnya karena kesal, papa tidak jadi meminta diuruskan orang tersebut. Nanti saja kalau salah satu diantara kami ada yang cuti  mengurus sesuatu, sekalian mengurus pendaftaran BPJS ke kantor cabang Semarang.

Mulailah petualangan saya hari ini...2 Maret 2015
Karena pernah melewati kantor BPJS semarang di pagi hari dan melihat antrian yang panjang hingga ke gerbang depan, saya berinisiatif untuk datang pagi. Berangkat dari rumah jam 6 pagi saya sampai jam 6.30 wib. Gerbang masih ditutup dan baru ada satu orang ibu yang antri di luar gerbang.
saya ikut mengantri bersama ibu tersebut hingga 15 menit kemudian pintu gerbang di buka oleh satpam. Satpam yang bertugas tidak mengatakan apapun sehingga kami bingung harus menunggu dimana. Akhirnya sama mampir ke pos satpam (satpam A menonton TV dan satpam B membaca koran...wow)
Saya bertanya tempat menunggu antrian dan hanya di jawab. "antri di belakang mbak. bukan lewat depan."

Akhirnya saya dan ibu tersebut menunggu di pintu belakang. Untung saja ada cleaning service yang mau melayani pertanyaan kami, bahkan memberitahu persyaratan yang harus di bawa, serta dimana saya harus mengambil formulir saat kantor sudah buka nanti (harus ke lantai 4 buat ambil formulir ternyata...kenapa? nanti saya jelaskan). Bapak cleaning service tersebut pula yang bilang bahwa yang harus ambil antrian adalah yang berkas2 pendaftarannya sudah lengkap, jadi kami (saya dan si ibu) tidak perlu ambil antrian dulu.

Jadi kami menunggu hingga jam 07.30 (katanya sih kantornya buka jam segini). Nih pengumumannya....saya foto...kenyataannyaa...saya baru naik ke lantai 4 jam 7.45 wib. Itupun masih disuruh menunggu karena petugas belum siap.


Semakin banyak orang yang datang, tapi tidak ada petugas/ satpam yang mengatur antrian, sehingga pendaftar yang datang belakangan tapi tidak punya malu ya bisa memotong antrian...sedangkan yang datang lebih awal dan berusia tua sehingga memilih untuk duduk2 dahulu malah mendapatkan antrian belakangan...*miris saya melihat hal ini...

Saat menunggu saya mengobrol juga dengan ibu2 dan bapak2 lainnya yang sudah bolak balik ke kantor BPJS karena ada persyaratan yang kurang. Saya heran dan mencari tahu persyaratan yang benar itu yang seperti apa sih...karena yang saya dapat dari web bpjs-kesehatan.go.id seperti di foto di bawah ini...


Tapi ternyata yang ada di lantai 1 kantor BPJS seperti yang di foto salah satu web seperti ini...(sabdaspace.org)

Pada kedua sumber informasi yang dapat diakses bebas diatas, tidak ada yang menyebutkan bahwa peserta harus membawa dan menunjukkan surat-surat asli. (kebayang dong banyak orang yang menyiapkan sesuai panduan di atas, akhirnya harus pulang lagi karena kurangnya informasi. Semoga ini bukan kesengajaan yaaaa...amin)

Sedangkan di lantai 4 kantor BPJS terpampang seperti ini....


Dan di cap formulir pendaftaran seperti ini...


Belum lagi saat akan mengambil formulir, kami di WAJIBkan menonton video pengarahan cara pendaftaran BPJS terlebih dahulu...di video tersebut (yang tidak di sosialisasikan di media apapun) peserta yang mendaftar harus membawa beberapa file ASLI, seperti:
1. KTP
2. KK
3. Surat Nikah
4. Buku Tabungan

Yang mana yang benar?? Saya sendiri bingung tuh yang mana...

Pokoknya, akhirnya saya ke lantai 4 dan dibagikan formulir dan menonton video. Yang saya sayangkan adalah kenapa video tersebut tidak di sosialisasikan ke masyarakat? Sehingga saat akan mengurus saya sudah paham saya harus kemana, serta step-step yang harus dilakukan. (kalo alesan petugas yang memberi pengarahan sih karena kantor BPJS cabang semarang belom punya web resmi...ya dibuat toooo...apa mau saya buatin blog nya??)

Disini ada sesi tanya jawab dengan petugas mengenai persyaratan yang harus dibawa. Karena seperti saya, banyak yang hanya membawa persyaratan sesuai petunjuk dari web resmi BPJS pusat. Peserta lain meminta keringanan sehingga fotocopy saja diperbolehkan. Petugas tersebut mengatakan bahwa tidak diperbolehkan dan peserta harus mengambil kembali surat-surat yang ASLI dan harus ditunjukkan.
dalam hati saya berpikir, enak sekali ngomongnya...nggak tau apa kalo yang mengurus ini rumahnya mungkin jauh, sudah cuti dari pekerjaan, naik angkutan umum, dll.
Akhirnya saking kesalnya, saya meminta kejelasan persyaratan yang harus dibawa karena seperti yang sudah saya tampilkan diatas, persyaratannya beda2. Malah petugas bertanya ke saya, darimana saya tau jika persyaratan fotocopy? Saya jawab "dari web BPJS.go.id mbak...masak nggak tau..."(petugas malu)
kemudian saya menanyakan kenapa tidak di sosialisasikan? jaman sudah canggih, hal seperti ini bisa di upload ke media sosial (video dan poster persyaratan) sehingga tidak menyita waktu untuk nonton dulu, ambil persyaratan yang kurang dulu, trus antri lagi. Petugas tersebut berdalih dengan alasan yang sama, bahwa belom memiliki web resmi. (ealaaaaaahhh...pegawainya lulusan sarjana toh?masak ndak ada yang bisa buat blog lah minimal...sementara gitu lho...)

Saking jengkelnya saya putuskan untuk pulang saja karena tidak ada kendaraan untuk bolak balik. Hilang sudah pagi hari saya...cuma untuk mendapati kekacauan ini. Males banget deh. Untung banyak ibu2 temen ngobrol.

Mohon untuk para petinggi dan pemegang kebijakan di kantor terkait supaya jika ada yang mau mendaftar BPJS seperti keluarga kami ini, terfasilitasi. Kami keluarga pekerja. Jatah cuti terbatas. Kalau melebihi jatah cuti, potong gaji. Pergi mengurus BPJS menghabiskan waktu, tenaga, uang transportasi. Belum lagi emosi karena harus balik lagi. Kalo begini apa ada yang peduli kerugian rakyat seperti keluarga saya? (silahkan dipikir sendiri)
Atau mungkin saya yang kuper yaaa..kurang cari informasi (saya dan puluhan orang yang tadi mengambil formulir bersama saya)
Atau mungkin saya yang nggak punya kenalan petugas/ satpam/cleaning service di kantor BPJS semarang ya? jadi info2 itu nggak nyampe ke saya...
Atau mungkin saya yang jarang main ke kantor BPJS semarang ya? (buat apa jal? emang saya kurang kerjaan?)

Wes lah, saya berdoa saja supaya keluarga saya terus diberi kesehatan sampai saya sempat menguruskan BPJS untuk keluarga saya. Amin.

Bersambung....(sampai saya sempat mengurus kembali yaaaaa...)

5 komentar:

  1. Sayang y kl pihak yg berkepentingan tdk membaca tulisan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe...terimakasih komennya...semoga ada pihak berkepentingan yg iseng membaca ya...

      Hapus
  2. Mbak mewakili perasaan sy dan mungkin yg lain juga. Petugas dan karyawan bpjs blum tentu kaya alias miskin juga tp udh sok gk mau lihat susahnya orang miskin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha...kalo soal kaya miskinnya petugas saya no comment deh...tapi apakah pelayanannya masih begitu juga? padahal ini postingan tahun lalu lho...semoga yang daftar tahun ini mendapat pelayanan yg lebih baik ya

      Hapus
  3. Mbak mewakili perasaan sy dan mungkin yg lain juga. Petugas dan karyawan bpjs blum tentu kaya alias miskin juga tp udh sok gk mau lihat susahnya orang miskin.

    BalasHapus