Sebelumnya kan saya sempet posting masalah ranting patah dan daun berguguran di depan rumah tuh (Panitia Pemilihan Kecamatan...oh Panitia Pemilihan Kecamatan)
Nah masalahnya ternyata berbuntut...
Saya cerita apa adanya dulu ya...tanpa asumsi...hehe...(asumsi dan prasangka buruk saya nanti di belakang saja lah...)
Siang ini saya siap2 mau pergi...tiba2 ada suara bruk..bruk dari luar...
akhirnya saya intip dari jendela...ternyata ada bapak2 yang menebang pohon di depan rumah yg kemarin di tabrak truk...
Kaget dong...itu pohon siapa...yang nebang siapa...(gak kenal)
langsung deh tanya Mama...emang ada pemberitahuan penebangan? kok pohon depan rumah di tebang?
Kata mama nggak ada kok...mama dan orang rumah lain tidak ada yg merasa mendapatkan pemberitahuan mengenai penebangan...
Langsung saya keluar...bertanya pada yang menebang sambil agak emosi...(maap ya pak)
"Pak, darimana ya? kok menebang pohon orang sembarangan?"
"dari kelurahan bu..."
"saya ndak merasa dapet pemberitahuan dari kelurahan kok...masa main tebang saja..."
"maaf bu...kami cuma disuruh menebang...katanya pohon yang di sisi seberang rumah ini semua milik kelurahan jadi disuruh tebang saja..."
"ya jangan gitu dong pak...masa nggak bilang2 langsung tebang saja?"
"maaf ya bu...makasih bu..." kata bapak2 yg nebang sambil langsung turun. (maap banget ya paaaaak...saya sudah salah sasaran marah2nya)
Ternyata tetangga juga pada keluar karena pohonnya pada di tebang. Beberapa orang bilang sudah sempat dibahas di rapat bapak2 RT bahwa pohon akan di tebang, tapi tidak diberitahu bahwa akan dipotong sekarang. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
Selang beberapa lama, ada petugas kelurahan yang lewat dengan motornya dan berhenti untuk memberi perintah kepada bapak2 tukang tebang pohon tadi.
Akhirnya warga yang keluar minta klarifikasi sekalian...
Begini garis besar jawabannya...(sayang ndak di rekam sih)
"perintah ini bukan dari RT tapi dari Kelurahan langsung...gara2 ada warga yang ribut karena pohonnya rusak waktu ada truk lewat. Jadi ya di tebang aja semua pohon yang dahannya menjorok ke jalan biar nggak ada yang ribut lagi kalo ada truk PPK lewat."
Langsung saya balas.
"Pak, bukan masalah truk lewatnya...kalo lewatnya pelan, nggak mungkinlah itu sampe patah pohonnya..." (sambil nunjuk pohon rambutan yg jelas patah)
Nah...sekarang bagian Pembelaan saya dan Prasangka Buruk saya ya...
Kalo truk lewat pelan2 paling daun berguguran...dan kalo petugasnya mau bersihin juga keluarga saya nggak akan ngomel (setidaknya ada itikad baik...ekh, malah papa saya dituduh menghambat kerja PPK.. please deh)
Dan kami nggak boleh ribut...kalo ribut semua pohon di tebang separoh sisinya yang menjorok ke jalan...(coba di pikir sendiri deh)
Trus itu kalimat kalo pohon di seberang rumah bukan punya warga tapi punya kelurahan? lha yang nanam siapa? yang merawat siapa? yang nyapu daun2 yg gugur tiap hari siapa?
KELURAHAN??
Trus supaya tidak salah paham lagi ya...
Tadi beberapa orang warga yang keluar (cuman yang keluar ya...yang enggak, saya nggak tau pendapat mereka seperti apa) bilang bahwa cuma SATU yang membuat mereka KEBERATAN...yaitu TIDAK ADA PEMBERITAHUAN. Minimal ngetuk pintu bilang "Pak/Bu, ini ada program dari kelurahan untuk memotong dahan pohon yang menjorok ke jalan. Pemotongan akan dilakukan sekarang ya."
HANYA ITU. (hal itu menunjukkan itikad baik kan? lagi2 itikad baik.)
Kami tidak akan menolak kok. Apalagi kalo alesannya karena ini musim hujan, untuk mencegah supaya tidak tumbang kalo ada hujan angin kencang.
Tapi ya kalo kalimat sebelumnya benar (pohon2 itu dianggap milik kelurahan) pantas saja langsung main potong tanpa permisi. Udah gitu motongnya sembarangan, nggak ada yang mengarahkan.
Akhirnya, karena males DITUDUH yang enggak2 lagi (nanti dituduh menghalangi program kelurahan) sekalian ajah menyuruh bapak tukang potong pohon memotong dengan rapi dan baik...nggak asal potong yang menjorok ke jalan saja...(jadi kayak separoh pohon gitu tampilannya...wkwkwk)
Kita juga nggak asal suruh (nanti DITUDUH lagi memanfaatkan program yang dibiayai kelurahan untuk kepentingan pribadi...padahal katanya pohonnya kelurahan)...
Bapak tukangnya kita beri tambahan ala kadarnya...Trus kita buatin minum es teh manis satu teko...sampe si bapak bilang "makasih ya bu, saya sampe gemeteran lho ini..."
"Lho belum makan siang pak?" tanya Mama saya.
"Sudah sih bu...tapi belum istirahat dari pagi..."
(udah gitu kena omel saya ya pak..hehehe)
Ini ada ucapan MAAP langsung dari saya (semoga saya bukan termasuk orang yang gengsi meminta maaf kalau memang salah ya...)
1. Buat tetangga saya yang ikut menerima akibat dari postingan saya dan adek saya sebelumnya (soal ranting patah dan daun berguguran). Kalau ada yang merasa kesal, jangan salahkan KELURAHAN, salahkanlah saya saja...yang memposting kejadian itu dan memicu timbulnya program pemotongan pohon ini...(menurut keterangan petugas kelurahan yg tadi lewat)
2. Buat Bapak2 tukang Potong pohon...Maap sekali lagi ya pak, karena saya tadi emosi dan berkata dengan nada kasar pada bapak2...Meskipun tadi saya sudah meminta maaf secara langsung dan menjelaskan saya sebenarnya tidak marah sama bapak2...karena bapak2 toh hanya disuruh untuk mengerjakan sesuatu...Udah gitu jalanan depan rumah disapu sampe bersih...sih...sih...kerjane profesional...semoga bukan karena konsumennya cerewet seperti saya ya pak...makasih deh pokoknya
Sudah ah...segitu dulu ajah curahan uneg2nya...
Semoga tidak bersambung lagi akh...capek saya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar