Minggu, 05 Juni 2016

Pengalaman kos di Jurang Belimbing Tembalang

Haiii...haiii...seperti biasa saya baru nongol lagi setelah sekian lama...fiuh...kali ini nggak pakai janji2 mau sering nulis lagi akh...kayaknya janji mulu tp sulit ditepati...hiks T^T

Kali ini mau share pengalaman...kan pas banget tuh sama waktunya seleksi mahasiswa baru...yang udah keterima pastinya lagi pada cari kos kan ya?
Wes pokoknya kali ini mau share pengalaman adek kos di daerah jurang belimbing undip (bukan pengalaman saya ya...tp saya ngikutin dari awal kok...karena bantuin nyari juga dulunya...)

Dan jangan di anggap sama rata ya...ini pengalaman kos di satu tempat doang kok...

Kejadiannya dari dua tahun yang lalu sih waktu adek keterima di salah satu fakultas di Undip. Karena dia nggak bisa naik motor sendiri (apalagi mobil...hehe) akhirnya diputuskanlah dia harus ngekos. Dicarilah kos yang deket kampusnya jadi dia cukup berjalan kaki dan waktu itu dipilihlah kos di jalan jurang belimbing sebagai kandidatnya.

Setelah bertanya dan berkeliling, akhirnya kami (saya kebetulan ikut menemani saat itu) diarahkan ke salah satu rumah kos yang masih baru selesai di bangun. Kosnya tiga lantai. kebetulan saat itu kami bertemu langsung dengan anak pemilik kos dan tak lama berselang bapak pemilik kos datang.

Saat itu, bapak pemilik kos menjelaskan bahwa ini bisnis keluarga dan akan diserahkan ke anaknya (yang waktu itu ada disitu) untuk di kelola. Salah satu anaknya (yang lain yang nggak ada disitu) ternyata adalah adek kelas saya di Undip. (Hint: anak pertama dan kedua lulusan undip, yg ketiga di salah satu univ swasta di semarang. Ketiganya cewek :p *apaan sih*). Sudah deh waktu itu jadi ngobrolnya kayak sudah deket gitu. Jadilah adek memutuskan untuk kos di sana.

Setahun pertama sih nggak ada masalah. Meski sibuk dengan urusan kampus dan laporan sehingga sering pulang malam (bahkan kadang terpaksa menginap di kos temannya). Penjaga kosnya (embak2) pun saat itu ramah dan kenal baik adek saya serta ibunya. Bahkan waktu itu bapak kos (yang waktu itu masih sering kesana) menawarkan agar ngerjain tugasnya di kos saja, biar teman2 adek ke kosnya saja.

Permasalahan mulai muncul ketika Penjaga kos pertama di ganti. Adek mulai merasa tidak nyaman karena penjaga kosnya ibu2 yang sudah punya anak kecil. Anaknya sering diajak menginap di kos ketika jaga, suaminya juga sering mampir ke kos. Namanya juga anak kecil, pasti suka nangis, teriak-teriak dan ribut, membuat adek sangat tidak nyaman terutama ketika masanya ujian ataupun saat banyak tugas. Ditambah lagi kos tersebut adalah kos putri, jadi terkadang tidak nyaman jika suami ibu tersebut ada di kos.

Akhirnya adek lebih banyak pulang ke rumahnya (kecuali jika pulang dari kampus sudah malam dan besok harus berangkat pagi). Setelah lama tidak di kos (karena waktu itu laporan yang harus dibuat sedikit), tibalah masa banyak laporan dan ujian. Sesuai dengan ijin dari bapak kos sebelumnya, hari itu teman adek saya numpang nginep di kosnya karena lembur mengerjakan tugas hingga larut malam. Paginya, adek dan temannya di tegur penjaga kos agar si teman ini tidak mandi di kos. Alasannya sedang irit air. Adek waktu itu kesal karena nadanya mengingatkan kok tidak enak sekali. Apalagi adek merasa sudah pernah mendapat ijin dari pemilik kos. Tapi dia nggak berani lapor ke bapak kos. Waktu itu saya pas di critani adek dan akhirnya saya lah yang mewakili adek komplain ke bapak kos soal kelakuan penjaga kos dan alasan ketidaknyamanan adek sehingga jarang di kos.

Entah kenapa, komplain saya tidak di tanggapi (waktu itu nggak bisa di telpon nomer bapak kosnya, jadi saya sms saja). Tidak berapa lama, saatnya perpanjangan kos, bapak kos bertanya apakah adek mau perpanjang karena sering tidak ada di kos. Adek menjawab sebenarnya mau saja di perpanjang, karena tidak ada masalah dengan kamar kosnya, tp dengan penjaga kos nya. waktu itu, bapak kos membenarkan bahwa beliau telah memberi ijin adek mengerjakan tugas kelompok di kos, dan bahwa beliau akan menegur penjaga kos.

Setelah kos di perpanjang, adek masih jarang tinggal di kos hingga penjaga kos diganti. Saat mulai kembali sering menghabiskan waktu di kos, muncul masalah baru lagi, pompa air kos mati sehingga kos kesulitan air. Bapak kos waktu itu menyuruh anak kos untuk numpang mandi di tetangga sebelah yang kebetulan kos2an juga. Katanya sih sudah bilang yang punya kos. Tapi beberapa hari numpang terus ya adek saya merasa nggak enak sama pemilik kos sebelah. Heran saya kok pemilik kos adek nggak merasa pekewuh ya anak kosnya numpang terus?

Selain itu, untuk stok air di kos (untuk keperluan buang air misalnya, masa harus ke kos sebelah juga?) penghuni kos diminta iuran untuk membeli air. Disinilah saya mulai merasa nggak beres. Fasilitas air itu menjadi tanggung jawab pemilik kos kan? Kalau pompa rusak, tanggung jawab pemilik kos untuk memperbaiki atau mengganti pompa kan? dan harusnya tanggung jawab pemilik kos kan untuk tetap menyediakan air untuk keperluan sehari-hari anak kosnya?

Ngakunya sih orang kaya, anak bungsunya kalo nggak salah mahasiswa di salah satu FK swasta di semarang (atau uangnya habis untuk membiayai ini?). Anaknya saja masing-masing mengendarai mobil (orang tua saya saja belum sanggup mbeliin saya mobil pak, apalagi saya, pastinya belum sanggup beli sendiri *lha kok malah bangga?*). Intinya, kok yo tega gitu mendzolimi anak kos yang mungkin ortunya berusaha sekuat tenaga mencari uang, mengirit, bahkan mungkin hidupnya pas-pasan supaya bisa menguliahkan anaknya di Universitas Negeri.

Yang lebih menyebalkan lagi, ketika adek memutuskan untuk tidak perpanjang di tahun berikutnya, dia diminta keluar dari kos sebelum waktunya habis. Kos adek sudah dibayar hingga tanggal 20 Agustus tahun itu, namun adek diminta keluar dari bulan Juli awal karena masanya Mahasiswa baru pada cari kos. (ini kata2 bapak kos sendiri lho waktu telepon)

Jadi ya untuk adek2 Maba, semoga ini bisa jadi pertimbangan dalam memilih kos ya...dan saya berdoa semoga pengalaman adek ini tidak terulang ke mahasiswa lainnya lagi...

Yok semangat cari kos....banyak kok kos yang pemiliknya ramah dan baik hati...seperti saya dan ortu saya...cuman sayangnya kosnya nggak dilingkungan Undip sih...tp di lingkungan kampus Udinus...semoga bisa merambah sampai ke lingkungan Undip ya kalau ada rejeki...hahaha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar