Senin, 06 Juni 2016

Bisakah kita merawat ibu seperti ibu merawat kita?

Ide untuk menulis mengenai ini sebenarnya sudah cukup lama...Berawal dari kisah saya yang hingga usia 28 th masih saja selalu bergantung pada Mama. Mau ngurus ini...minta tolong mama...mau bikin itu...minta tolong mama...Maklum mama saya terbiasa mengurus ini itu sendirian sejak menikah dengan papa saya dan di boyong ke pulau Jawa. Kebayang dong dari yang nggak bisa ngomong pakai bahasa Jawa (kalo ndengerin sih mudeng katanya), nggak kenal siapa2 kecuali papa saya, keluarga papa saya dan teman-teman papa saya (yang beberapa diantaranya juga teman mama saya). Mama saya umur 24 tahun sudah punya anak (saya) dan ibu rumah tangga fulltime. *empat jempol*

Wes pokoknya, Mama saya itu mandiri banget. Kalo nggak tau ya tanya. Nyasar itu biasa. Spontan banget...

Beda banget sama saya. Mau ngurus ini harus dipikirin rencananya masak-masak. Mau ngurus itu, tanya info dulu dari mana-mana. Semua harus terencana. Kalau bisa juga harus sempurna.

Namun 1,5 tahun yang lalu ada hal tidak terencana dan tidak sempurna dalam hidup saya. Ketika tiba-tiba Mama saya yang selalu mandiri itu jatuh sakit terkena stroke. Bagai petir di pagi buta (bukan disiang bolong ya) saya di telepon karena mama sakit dan karena saya curiga Mama terkena stroke, saya langsung minta papa untuk membawa mama ke rumah sakit saat itu juga.

Sebentar yah, saya selingi mengusap air mata, tiap kali teringat kejadian ini atau menceritakan kejadian ini (kalo ada yang tanya) masih saja saya mbrebes mili (nek kata orang jawa). Jadi sudahlah, kalau bisa jangan tanya-tanya, apalagi kalo cuma basa basi.

Sepanjang perjalanan Jogja-Semarang waktu itu saya nggak berhenti nangis di dalam travel. (launching perdana nih...nggak ada yang tau saya nangis terus sepanjang perjalanan kecuali sopir dan mungkin seorang penumpang travel lainnya...bahkan saya nggak pernah cerita ke keluarga saya)

Saat itu saya menjadi anak Mama saya. Bukan Dokter. Apalagi Dosen. (apa hubungannya coba??hehe...) Pokoknya waktu itu ilmu sekolah 6 tahun dan praktek 1 tahun menguap begitu saja. Kalau ada orang yang bertanya kok bisa sih ibunya sampai sakit seperti itu? Saya juga bertanya hal yang sama...kok bisa? kok bisa saya nggak tau? kok bisa saya lalai memperhatikan orangtua saya? kok bisa saya nggak perhatian? kok bisa...kok bisa dan kok bisa...mungkin lebih dari 100x pertanyaan kok bisa itu muncul di otak saya. Bahkan sampai sekarang pertanyaan itu kadang muncul...

Saat itu saya melepaskan semuanya untuk bisa menunggui mama di rumah sakit. Kegiatan kuliah S2 saya tinggalkan, penyusunan proposal tesis saya abaikan. Saat itu saya tidak peduli orang mau berkata apa, prioritas saya saat itu sangat jelas.

Mungkin keadaan inilah yang memaksa saya keluar dari zona nyaman saya. Selain harus merawat mama, saya juga harus mengambil alih beberapa tanggung jawab yang dulu hampir semua dipegang oleh mama. Maklum saya juga anak pertama...(iyes banget)

Saya belajar banyak hal mulai dari memandikan, memakaikan baju, menggantikan pampers, menyisiri, mengucirkan rambut, membujuk supaya mau makan, memarahi ketika malas minum obat atau malas makan, memotivasi agar semangat cepat sembuh. Bahkan saya belajar memasak untuk mama saya.

Tentu saja saya nggak sempurna, adakalanya saya jengkel, pernah nggak sengaja jatuh bareng sama mama karena nggak kuat menumpu beban berat mama...masak nggak ada rasanya...Bahkan setelah setahun berlalu saya masih belajar, bagaimana caranya membujuk mama ketika malas makan...bagaimana menasehati mengenai hidup sehat atau hal-hal sepele di kehidupan sehari-hari tanpa terlalu menggurui...dan bagaimana belajar tegas dan berani menegur mama ketika sama sekali nggak mau nurut...

Ketika saya jenuh atau jengkel, saya mengingat kembali, mungkin ini yang dirasakan mama saat pertamakali merawat saya saat bayi. Ngompol dan buang air besar berkali-kali, bisanya cuma merengek dan menangis. Atau ketika saya sudah lebih besar, ketika saya keras kepala, atau ketika saya membantah ucapan mama.

Saat ini mama masih terus berjuang menghadapi penyakitnya, frustasinya karena masih ada hal-hal yang tidak bisa kembali seperti sedia kala. Saya juga masih terus berjuang dan terus belajar agar bisa lebih baik dalam merawat mama saya.

Satu hal yang sangat saya syukuri adalah kali ini Tuhan menegur saya dengan ringan. Karena Mama masih ada disamping saya dan saya masih diberi kesempatan untuk berbakti pada orang tua.

Kembali ke judul ya...bisa kah kita merawat ibu seperti ibu merawat kita?
Yuk akh, masih jauh banget perbandingannya...saya merawat mama setahun...mama saya merawat saya bahkan sampai sekarang...masih mengkhawatirkan kondisi saya...mengkhawatirkan sekolah saya (saya juga khawatir ma...doakan cepat lulus ya...:p)

Jadi, saya salut banget sama teman2 saya yang sudah jadi ibu. Semangat gals! Nggak ada yg sia-sia kok kalo demi anak. Siapa lagi yang akan merawat dimasa tua nanti?

Buat teman2 yang orang tuanya masih sehat semua, sesekali bolehlah mencurahkan perhatian khusus pada mereka...waktu itu nggak akan bisa di ulangi lho...saya masih menyesal karena peristiwa sakitnya mama, tapi saya berusaha untuk tidak menyesal untuk yang kedua kalinya.

Sudah ah, saya mau basuh muka dulu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar